THE BATTLEGROUND FOR FAITH
A.
Pendahuluan
Semua agama mengajarkan kepada para pemeluknya untuk hidup dalam
kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan, baik didalam dunia maupun di akhirat.
Bahkan agama muncul, baik secara theologis maupun sosiologis adalah guna
menyantuni dan menyelamatkan anak manusia; menuju jalan-jalan kedamaian dan
keselamatan, menghilangkan ketidakpastian dan mendatangkan ketentraman;
mengajarkan kasih sayang diantara sesama manusia, mahluk lain dan lingkungan
hidupnya; menyucikan diri dari perbuatan-perbuatan buruk, tercela atau merusak
dan sebagainya.[1]
Selain itu kehadiran agama selain berfungsi sebagai faktor integrativ, juga sering menjadi
factor penyebab terjadinya konflik, perpecahan dan bahkan dalam bentuk
peperangan (atas nama keimanan), baik dikalangan interen pemeluk agama, maupun antar agama. Isi-isu
keagamaan kadang menjadi salah satu pemicu perang, keyakinan agama sering
menimbulkan sikap tidak toleran dan loyalitas agama biasanya hanya menyatukan
beberapa orang tertentu dan memisahkan yang lainnya.[2] Potensi untuk berkembangnya konflik keagamaan
tersebut, lebih sering terjadi terutama adalah
pada suatu masyarakat atau negara yang
penduduknya menganut agama yang beragam.
Perbedaan
agama telah menyulut beberapa konflik bahkan peperangan antaragama yang paling
brutal dalam sejarah manusia. Seringkali perbedaan-perbedaan kecil dalam hal
ajaran agama melepaskan kuda-kuda perang dan membenarkan pembantaian manusia
secara masal, yang ironisnya atas nama Tuhan dan panggilan suci agama.[3]
Disini agama dibangun dengan memahami kitab suci
secara tekstual dan parsial untuk mengklaim Tuhan dan kebenaran “hanya ada” di
pihak sendiri, dan juga untuk melegitimasi tindakan kekerasan dan perang atas
nama Tuhan.
Bahkan sampai perkembangan yang
terjadi dewasa ini masih banyak para kaum beragama masih saling memandang dalam
sorot mata bermusuhan, teror, dan perang. Ketika banyak peperangan yang justru
dikobarkan oleh “api jahat” agama. Pada saat banyak jiwa manusia melayang
justru untuk memuliakan Tuhan. Dan manakala Tuhan diagungkan dan dibela
mati-matian dengan darah suci banyak manusia. Maka memang benar lebih baik
hidup ini tanpa agama, yang penting manusia merasa nyaman, damai, harmonis, dan
aman.
Fenomena “tidak masuk di akal demikian”[4]
demikian bukanlah omong kosong. Sejarah memang telah membuktikan bahwa agama
pernah menjadi penyebab pertumpahan darah dan kekerasan sesama penyembah Tuhan.
Terjadinya fitnah al-kubro dalam
Islam, perang Salib, perang antara
Protestan dan Katolik selama 30 tahun di Eropa, perang agama selama satu abad
di Eropa, [5]
merupakan bukti-bukti empirik bagaimana agama menjadi motivasi semuanya. Umat
beragama menjadi begitu beringas dan radikal terhadap yang lain (others),[6]
nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan, keadilan tertimbun rapat di balik
lembaran-lembaran kitab suci masing-masing dan seperti tak terbaca serta
“terhapus” darinya.
Jika nilai-nilai keagamaan dan simbolisme
merupakan senjata potensial (sama pentingnya untuk memahami konflik) maka pasti
sumber-sumber rekonsiliasi harus juga berasal dari analisis yang lebih kreatif
atas kekayaan kultural keagamaan, masyarakatbyang terlibat dalam konflik itu
sendiri. Dengan demikian jelas, bahwa unsur agama yang terabaikan tentang
konflik berjangka panjang, dan berurat berakar adalah ideology keagamaan
(dengan serangkaian lambing dan tanda budaya) yang digunakan oleh para pemimpin
untuk mendorong para pengikutnya untuk mau mengorbankan hidup dan harta mereka
untuk peperangan.[7]
Berdasarkan hal tersebut bagaimanakah tindakan-tindakan kekerasan, teror, melukai,
bahkan membunuh yang mengatas-namakan,
keimanan/agama/Tuhan itu dibenarkan? Dan bagaimanakah solusi yang harus
digunakan dalam menghadapi fenomena tersebut?
Selengkapnya dapat dilihat di : In Progress...
[1] Azumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari
fundamentalisme, Moderenisme hingga Post-Moderenisme, (Jakarta:
Paramadina/PT.Temprint, 1996), hlm. 182 dikuti dari, Perspektif Islam dan Kedamaian, lihat Sayyid Qutb, al-Salam al-Alami wa al-Islam, Kairo,
t.t.
[3] Rodney Stark, One True
God: Resiko Sejarah Bertuhan Satu, terj. M. Sadat Ismail (Yogyakarta:
Penerbit Qalam, 2003), hlm. 169.
[4] Kenyataan ini oleh Jose
Cassanova disebut dengan “janus face” agama; wajah ganda agama. Agama terbukti
menjadi kekuatan pejuangan kemanusiaan dan kedamaian yang paling gigih, namun
di sisi lain ia juga tidak jarang menjadi penyebab konflik yang paling ampuh
bahkan mengobarkan peperangan antara sesame manusia. Tidak hanya dengan yang
berbeda agama, fenomena wajah ganda itu juga terjadi di dalam intra umat
beragama itu sendiri, Jose Casanova, “Public
Religions Revisited,” dalam Hent de Varies (ed.), Religion: Beyond the Concept (New York: Fordham Universiti Press,
2008), hal. 101-102. Ia menambahkan, “To
be sure, there is very little evidence of any kind of religious. But religion
has certainly returned as a contentious issue to the public sphare of European
societies.” Untuk karya lamanya yang berpengaruh, lihat, Jose Casanova, Public Religions in the Moderen World
(Chicago: University of Chicago Press, 1994)
[5] Lihat, Karen Amstrong, The
Battle for God: A History of Fundamentalism (New York: Alfred A. Knoft,
2001).
[6] Yang lain (others) di sini
bentuknya bisa agama lain yang berbeda, pemahaman keagamaan yang berbeda, atau
bisa fenomena social yang dianggap diri sendiri sebagai penyimpangan dan
pengingkaran atas teks-teks Tuhan dalam Kitab Suci Agama. Fenomena amar
ma’ruf nahi munkar versi FPI misalnya, pengeboman Gedung Federal Alfred P.
Murrah di Okalahoma City yang menewaskan 168 korban, ekstrimis anti-aborsi
Kristen yang membunuh para fisikawan dan perawat di fasilitas aborsi di
Amerika; semuanya terinspirasi oleh teks-teks suci agama sebagai panggilan suci
dengan pemahaman keagamaan yang tekstual. Lihat, Charles Selengut, Sacred
Fury: Understanding Religious Violence (new York: Rowman & Littlefield
Publisher, Inc, 2003), hlm. 5.
[7] Daniel L.
Smith-Christoper (ed.,), Lebih tajam dari
pedang; Refleksi Agama-agama tentang Paradoks Kekerasan. (Yogyakarta:
Kanisius, 2005), hlm. 18 terj. A. Widyamartaya dalam, Daniel L. Smith (ed.,) Subverting Hartred: The Challenge of
Nonviolence in Religious Tradotions, Orbit Book, Maryknoll, Newyork, 1998.
.jpg)
0 komentar :
Posting Komentar